Cerita Setengah Dua
Selamat malam.
Selamat dini hari. Maaf, ternyata sudah jam 1.
14 April 2013. 14 dan 4 lalu 13. Angka sial semua.
Hanya ada bunyi ritmik jam dinding dan mesin cuci yang terbatuk.
Sudah mengantuk, tetapi cucian menumpuk.
Mesin cuci tua terbatuk, berputar terantuk-antuk.
Aku belum boleh tidur, walau mengantuk.
Mohon maaf jika tulisan ini sangat jelek.
Aku bahkan tak kuasa untuk tetap melek.
Siaran berita TV terus berkoar-koar tentang caleg.
Urusan kuliah terabaikan, hari ini dipanggil warek.
Kesalan fatal di tanggalan sial.
Merantai kata-kata cinta padahal membual.
Rangkaian kenangan bagai benang terpintal.
Sayang, layu sebelum berkembang karena tidak kuat mental.
Hanya 140 karakter saksi bisu kita.
Saling menunggu dalam detik yang berdetak.
Siaga selalu, siap untuk didepak.
Satu reply, kemudian tak dibalas. Fak!
(Harusnya mulai bait ini bercerita tentang kamu.
Entah karena apa, tidak pernah bisa. Dari dulu.
Mungkin kamu hanya pada batas perasaan.
Hanya dapat dipahami dengan rasa.
Bukan dengan kata, imaji, dll.
Intinya cuma mau say selamat malam.
Cuma terlalu pengecut untuk nge-tweet.
OK, good night. Sleep tight & nice dream.
P.S. Love you.)
Thought via Path
But when those senses weaken, another heightens: memory. You nurture it, you hold it, you dance with it. โ Read on Path.